Filosofi Gelas

Nov 29, 2021 15:08 · 654 words · 4 minute read #life


Pada pertengahan bulan november 2021, gw akhirnya berkesempatan menyampaikan Tech Talk LAGI di perusahaan yang gw kembangin. hahah, terakhir kali gw ingat sekitar 5-6 bulan yang lalu. Ini utang gw sih sebagai tech lead, yah karena serba serbi kehidupan teknikal yang praktis, padat dan berkembang pesat membuat upgrading (istilah dipakai di perusahaan gw untuk upgrade ilmu dalam tim) ini baru kesampaian lagi.

Senang dan bersyukur, karena yang hadir cukup banyak bukan hanya dari internal tim saja (yang direncanakan) tapi dari alumni beberapa batch magang yang terlewati hingga teman teman komunitas juga. What a moment. Materi yang gw bawakan juga cukup ringan bagi pemula, yakni Continuous Integration & Continuous Delivery (CI/CD). Jika ada kesempatan, gw coba lagi lah ya jelasin materi itu versi gw di blog ini.

Tapi tulisan kali ini tidak akan membahas mengenai hal teknikal diatas, santai nggak usah close tab dulu, tahan. Yang ingin gw bahas sebenarnya hal sederhana yang berawal dari salah satu upgrading diatas. Yakni di slide kedua slide presentasi CI/CD, ada yang bertanya mengenai slide kosong yang hanya menampilkan sebuah gambar gelas yang isinya kosong.

Ini seru sih, soalnya pertama kalinya ada peserta yang bertanya. Ohiya, beberapa kali disetiap gw melakukan presentasi yang konteksnya berbagi, gwselalu menyelipkan slide dengan gambar gelas kosong ini sebagai slide kedua. Ada maksud dan makna yang ingin gw sampaikan dengan visual tersebut, dan konsep yang ingin diselaraskan dengan pendengar sebelum gw lanjut berbicara.

Filosofi Gelas

Ada nilai yang gw prinsipi sejak lama terkait etika berdiskusi yakni menyelaraskan persepsi terlebih dahulu. Gw menganggap, pentingnya poin ini sebelum kita lanjut berdiskusi dengan tema-tema berat yang menggugah pemikiran pihak-pihak dalam lingakaran diskusi. Menurut gw, ego merupakan pantangan paling terbesar ketika seseorang ingin menerima/memberikan ilmu. Dengan menurunkan ego, langkah pertama untuk diskusi yang sehat akan terlaksana.

Dalam proses menurunkan ego ini, ada banyak metode yang gw pelajari konsepnya dari buku/tulisan yang telah gw baca salah satunya dari buku “How to talk to Anyone, Anytime, Anywhere karya Larry King”. Mungkin kalian pernah mendengar istilah mindset “Half Full - Half Empty Glass” untuk menguji perspektif kita saat proses belajar hal baru. Tapi bukan itu yang gw ingin sampaikan, karena ada konsep lain yang lebih menarik bg gw yakni “Berpikir tentang sebuah gelas saat akan diisi air”.

Singkatnya, konsep ini terbagi akan 3 tipe. Tergantung siapa dan bagaimana kita bersikap sebelum diskusi/belajar.

Gelas Tertutup

Sesedarhana posisinya, bayangin saat tipe orang seperti ini yang terlibat dalam diskusi. Yah nggak bakalan bisa terisi, biar ngomongin panjang lebar atas bawah kiri kanan luar dalam-pun takkan ada yang dicerna. Bukan hanya dicerna, bahkan terksesan tidak mau mendengar. Tipe seperti ini buat diskusi 5 menit terasa sejam/dua jam. Capek. Lelah. Dan tidak ada manfaatnya.

Gelas Bocor

Gelas bocor penyebab gelas akan pecah jika dibiarkan terlalu lama. Dalam etika berdiskusi, tipe orang seperti ini cenderung mendengar tapi tidak mendengarkan. Berbeda dari tipe gelas tertutup sebelumnya, tipe ini terlihat mengerti yang disampaikan oleh lawan bicaranya tapi jelas tidak memahami apa yang sedang dibicarakan. Tipe seperti ini membuat diskusi yang berjalan selama sejam/dua jam menjadi seperti 5 menit atau tidak berarti sama sekali.

Gelas Kosong

Terakhir, tipe gelas yang sudah pasti jika diisi air akan menampung dan membentuk air yang masuk persis seperti bentuk gelasnya itu sendiri. Ia tidak tertutup maupun bocor. Apa yang disampaikan itulah yang ia cerna, pahami dan resapi sesuai pandangan ia sendiri. Tipe teman diskusi seperti ini yang gw harapin saat sebelum memberi penjelasan, maupun gw berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi tipe ini disetiap diskusi apapun, siapapun, kapanpun.

Tipe ini susahnya minta ampun, ego yang harus diturunin, menganggap diri kita tidak tahu apapun, menghormati siapapun, dan menerima pendapat tentang apapun tanpa menabrakan dengan pemahaman yang telah kita miliki. Apa yang orang lain sampaikan, bisa saja tidak sejalan dengan yang kita yakini. Tapi terima saja dulu, cerna saja dulu, isi saja dulu. Bentuklah sesuai dengan pemahaman kita - itu maksud dari air yang masuk menyesuaikan dengan bentuk gelasnya. Mari jadi peserta diskusi dengan tipe seperti ini.

  |  
Show comments